CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 29 Oktober 2013

MEDAN MAKNA



Harimurti (1982) mengatakan bahwa medan makna (semantic field, semantic domain) adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsure leksikal yang maknanya berhubungan. Umpamanya, nama-nama warna membentuk  medan makna tertentu. Begitu juga dengam nama perabot rumah tangga, istilah olah raga, istilah kekerabatan dan sebagainya.
Medan makna meruapakan kelompok kata yang maknanya saling terjalin, maka kata-kata umum dapat  mempunyai anggota yang disebut hiponim. Hal ini terbukti dengan adanya kata tumbuh-tumbuhan yang mempunyai hiponim: bunga, durian, jagung, kelapa, pisang, sagu, tomat ubi; kata bunga mempunyai hiponim: aster, bugenvil, kamboja, matahari, suvenir, tulip.


Kata-kata unsur leksikal yang maknanya berhubungan dalam satu bidang tertentu jumlahnya tidak sama dari satu bahasa dengan bahasa lain, sebab berkaitan erat dengan kemajuan atau situasi budaya masyarakat bahasa yang bersangkutan. Nama-nama warna dalam bahasa Indonesia adalah coklat, merah, biru hijau, kuning, dan abu-abu, dalam hal ini putih dan hitam menurut fisika adalah bukan warna; atau lebih tepat, putih adalah kumpulan segala macam warna, sedangkan hitam adalah tidak ada warna sama sekali. Lain, untuk membedakan perbedaan nuansa warna dari nama-nama warna pokok itu biasanya diberi keterangan perbandingan di belakang nama warna itu. Misalnya merah tua, merah muda, merah darah merah hati, dan sebagainya. Dengan demikian, kebutuhan akan nama pembeda dan warna-warna itu terpenuhi.
Kata-kata yang berada dalam satu medan makna dapat digolongkan menjadi dua, yaitu yang termasuk golongan kolokasi dan golongan set.
Kolokasi (berasal dari bahasa latin colloco) yang berarti ada di tepat yang sama. Misalnya, pada kalimat Tiang layar perahu nelayan itu patah dihantam badai, lalu perahu itu digulung ombak, dan tenggelam beserta isinya, kita dapati kata-kata layar, perahu, nelayan, badai, ombak, dan tenggelam yang merupakan kata-kata dalam satu kolokasi; satu tempat atau lingkungan. Jadi, kata-kata yang berkolokasi ditemukan bersama atau berada bersama dalam satu tempat atau satu lingkungan. Kata-kata layar, perahu, badai, ombak, dan tenggelam di atas berada dalam satu lingkungan, yaitu dalam pembicaraan mengenai laut.
Dalam pembicaraan tentang jenis makna ada juga istilah kolokasi, yaitu jenis makna kolokasi. Yang dimaksud disini adalah makna kata yang tertentu berkenaaan dengan keterikatan kata tersebut dengan kata lain yang merupakan kolokasinya.
Kalau kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmatik karena sifatnya yang linier maka set menunjuk pada hubungan paradigmatik karena kata-kata atau unsur-unsur yang berada dalam suatu set dapat saling menggantikan. Suatu set biasanya berupa sekelompok unsur leksikal dari kelas yang sama yaang tampaknya merupakan satu kesatuan. Setiap unsur leksikal dalam suatu set dibatasi oleh tempatnya dalam hubungan dengan anggota-anggota dalam set tersebut.
Pengelompokan kata berdasarkan kolokasi dan set dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai teori medan makna, meskipun makna unsur-unsur leksikal itu sering bertumpang tindih dan batas-batas seringkali juga menjadi kabur. Selain itu pengelompokan ini juga kurang memperhatikan perbedaan antara yang disebut makna denotasi dan makna konotasi; antara makna dasar dari suatu kata atau leksem dengan makna tambahan dari kata itu. Contohnya, kata wanita, selain bermakna dasar manusia dewasanya berkelamin betina, juga memiliki makna tambahan seperti modern, berpendidikan cukup, tidak berkebaya, dan sebagainya.
Oleh karena itu, secara semantik diakui bahwa pengelompokan kata atau unsur-unsur leksikal secara kolokasi dan set hanya menyangkut satu segi makna, yaitu makna dasarnya saja. Sedangkan makna seluruh tiap kata atau unsur leksikal itu perlu dilihat dan dikaji secara terpisah dalam kaitannya dengan penggunaan kata atau unsur leksikal tersebut di dalam pertuturan.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar